Kabar Jawa – Begitu kepulan asap di lereng Gunung Lawu perlahan menyurut, cerita di balik bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini ternyata baru benar-benar dimulai.
Api yang melahap ratusan hektare hutan lindung nggak cuma menghanguskan pepohonan, tapi juga memicu efek domino yang langsung dirasakan oleh warga lokal.
Dampak yang dirasakan warga lereng gunung bukan cuma soal kabut asap, melainkan putusnya kebutuhan hidup mendasar.
Di Dusun Babar, Desa Anggaramanis, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, ratusan warga sempat gigit jari karena kesulitan air bersih. Jaringan pipa yang mengalirkan air dari mata air pegunungan hangus dililit si jago merah.
Walaupun sumber mata airnya sendiri dipastikan aman, hancurnya pipa plastik penampung membuat suplai air ke rumah-rumah warga lumpuh total.
Nggak cuma air bersih, satwa liar penghuni hutan juga ikutan terusik. Di Dusun Plalar, Desa Tengklik, Tawangmangu, lima ekor kambing milik warga ditemukan mati mengenaskan dengan luka gigitan.
Diduga kuat, satwa pemangsa seperti macan tutul terpaksa turun mendekati pemukiman karena habitat aslinya di atas sudah hangus terbakar.
Kobaran api ini pertama kali terendus pada Kamis pertengahan Oktober lalu oleh petani yang melintas di Desa Gondosuli, Tawangmangu.
Kombinasi vegetasi kering akibat kemarau panjang dan angin kencang bikin api dengan cepat merembet ke kawasan hutan lindung Petak 28, 32, dan 62C.
Pihak berwenang mengindikasikan bencana ini berasal dari kelalaian manusia (human error). Temuan Perhutani bahkan mencatat, sepanjang September hingga Oktober saja, petugas sebenarnya sudah empat kali menggagalkan potensi kebakaran di Gunung Lawu.
Di tengah kesibukan memadamkan api, relawan dari kelompok Jaga Lawu sempat menyoroti soal koordinasi logistik. Pada hari-hari awal, dapur umum sepenuhnya mengandalkan aksi gotong royong warga (“rakyat bantu rakyat”) untuk menyediakan 450 porsi makanan sehari bagi para petugas.
Sementara itu, armada dapur umum pemerintah baru tiba di lokasi pada hari ketujuh, yang tentunya jadi catatan penting untuk evaluasi ke depan.
Sebagai langkah pencegahan, Pemprov Jawa Tengah langsung menutup sementara seluruh jalur pendakian—mulai dari Lawu, Sumbing, Merbabu, Sindoro, hingga Slamet. Ke depannya, pemerintah juga merancang pembangunan embung, tandon air, serta pipanisasi strategis di titik-titik rawan kebakaran.
Api mungkin bisa dipadamkan dalam hitungan minggu, tapi pemulihan alam butuh napas panjang. Berdasarkan kajian ilmiah citra satelit Landsat 8 oleh peneliti Fakultas Kehutanan INSTIPER, ekosistem Gunung Lawu butuh waktu setidaknya 3 tahun untuk bisa pulih secara alami dan tutupan vegetasinya kembali normal.