Dari Limbah Dapur Jadi Uang, Gerakan Minyak Jelantah di Jateng Raih Rekor MURI

Bagikan :

Kabar Jawa – Minyak goreng bekas atau minyak jelantah selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga yang tidak lagi memiliki nilai. Setelah digunakan berkali-kali, cairan sisa penggorengan tersebut biasanya dibuang begitu saja. Padahal, jika dikelola dengan tepat, minyak jelantah masih bisa memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Peluang inilah yang tengah dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui gerakan pengumpulan minyak jelantah. Tak sekadar mengajak masyarakat mengurangi limbah dapur, program ini juga memberikan insentif berupa uang tunai bagi warga yang menyetorkan minyak bekas pakai.

Inovasi tersebut bahkan berhasil mengantarkan Jawa Tengah meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana di lingkungan rumah tangga dapat berkembang menjadi gerakan bersama dengan nilai ekonomi yang cukup besar.

ATM Biodrop, Cara Baru Mengubah Minyak Jelantah Menjadi Uang

Untuk memudahkan masyarakat berpartisipasi, Pemprov Jawa Tengah menggandeng sektor swasta menghadirkan mesin ATM Biodrop. Fasilitas ini dirancang agar warga dapat menyetorkan minyak jelantah secara mandiri tanpa harus melalui proses yang rumit.

Menariknya, minyak bekas yang disetorkan tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dikonversi menjadi saldo uang tunai. Nilai tersebut kemudian ditransfer langsung ke rekening bank milik penyetor.

Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., menjelaskan bahwa pemberian insentif ekonomi menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat membangun kebiasaan baru dalam mengelola limbah rumah tangga.

Baca juga  Dosen ISI Solo Gelar Aksi di Rektorat, Tuntut Hak Tukin yang Tak Kunjung Cair

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendapatkan manfaat finansial dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Gerakan pengumpulan minyak jelantah ini diawali dengan melibatkan jajaran internal pemerintah daerah. Sebanyak 60.680 aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai badan usaha milik daerah (BUMD) turut berpartisipasi mengumpulkan minyak goreng bekas dari lingkungan masing-masing.

Hasilnya cukup besar. Dari gerakan bersama tersebut, terkumpul sebanyak 31.032,44 liter minyak jelantah dengan estimasi nilai ekonomi mencapai Rp217.227.000.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa limbah rumah tangga yang dikumpulkan secara terorganisasi dapat memiliki nilai ekonomi yang tidak sedikit.

Program ini terlaksana melalui kolaborasi Pemprov Jawa Tengah dengan PT Biosirkular Inovasi Indonesia (Biosirkular) dan PT Gapura Mas Lestari (GML).

Ke depan, keberadaan ATM Biodrop diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat di seluruh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Keberhasilan mengumpulkan puluhan ribu liter minyak jelantah tersebut mendapat apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia.

Piagam penghargaan diserahkan Senior Representative MURI Wilayah Semarang dan Jawa Tengah, Ari Andriani, dalam Rapat Koordinasi Tim Pembina Posyandu se-Jawa Tengah di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Senin (2/11/2026).

Penghargaan diterima Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi. Penyerahan tersebut turut didampingi Hj. Nawal Arafah Yasin.

Baca juga  Ahmad Luthfi Bakal Tanggung Kos 3 Bulan untuk Mahasiswa Sumatra Korban Bencana

Bagi pemerintah daerah, penghargaan ini bukan semata-mata pencapaian dalam memecahkan rekor. Lebih dari itu, gerakan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga.

Di balik gerakan pengumpulan minyak jelantah, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kesehatan keluarga.

Minyak goreng yang digunakan berulang kali dapat mengalami penurunan kualitas dan perubahan komposisi kimia. Karena itu, penggunaannya secara terus-menerus dalam pengolahan makanan perlu dihindari.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa program pengumpulan minyak jelantah tidak hanya berorientasi pada pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.

“Program pengumpulan minyak jelantah ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan atau sampah, tetapi juga kesehatan. Bagaimana masyarakat kita tidak mengonsumsi minyak yang sudah berkali-kali digunakan sehingga lebih sehat,” ungkap Taj Yasin.

Melalui pengumpulan dan penyaluran minyak bekas ke rantai daur ulang industri, masyarakat diharapkan memiliki alternatif pengelolaan yang lebih aman dibandingkan membuangnya sembarangan atau menggunakannya kembali untuk memasak.

Dengan cara ini, kebiasaan memilah limbah dapur bisa memberikan manfaat lebih luas, mulai dari mengurangi pencemaran hingga mendorong pola hidup yang lebih sehat.

Rapat koordinasi Tim Pembina Posyandu se-Jawa Tengah tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat peran Posyandu sebagai pusat pelayanan masyarakat.

Salah satu program yang diluncurkan adalah Pandu Tangguh. Melalui program ini, ribuan kader Posyandu dari 35 kabupaten dan kota mendapatkan pelatihan untuk mengoperasikan aplikasi Perlinsos.

Baca juga  Pemerintah Permudah Pengecer Elpiji 3 Kg Jadi Sub-Pangkalan Resmi, Dilengkapi Aplikasi Pengawasan

Para kader nantinya akan membantu warga rentan memperbaiki ketidaksesuaian data kemiskinan atau desil, sekaligus mendampingi proses pengajuan sanggahan apabila terdapat ketidaktepatan dalam pendataan penerima bantuan sosial.

Langkah ini diharapkan dapat membantu meningkatkan ketepatan sasaran berbagai program perlindungan sosial pemerintah.

Selain persoalan kesejahteraan, perhatian juga diberikan pada kesehatan mental masyarakat. Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) untuk mengembangkan layanan pendampingan kesehatan mental melalui Posyandu.

Kolaborasi tersebut dilakukan melalui kegiatan riset dan kuliah kerja nyata (KKN) tematik mahasiswa, dengan mengadopsi praktik baik yang telah berjalan di Kota Surakarta.

Dengan lebih dari 20.000 unit Posyandu yang telah terdata dan ribuan di antaranya resmi terdaftar di Kementerian Kesehatan, Jawa Tengah terus mengembangkan fungsi Posyandu agar tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan dasar.

Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana Posyandu dapat menjadi ruang pelayanan yang lebih luas, mulai dari kesehatan keluarga, pendampingan sosial, hingga kesehatan mental.

Pada akhirnya, gerakan minyak jelantah dan penguatan Posyandu membawa pesan yang sama: perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Dari menyimpan minyak bekas di rumah hingga memanfaatkan layanan masyarakat, setiap langkah dapat berkontribusi terhadap lingkungan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Berita Terbaru

ilustarsi wawancara maganghub
MagangHub Tetapkan Wawancara Tatap Muka, Bisakah Peserta Minta Opsi Daring karena Beda Kota?
truongdinhanh-rice-9829225
Bojonegoro Geser Lamongan Jadi Raja Padi Jawa Timur 2026
lamaran maganghub
Tanggal Diperbarui pada Lamaran MagangHub Tidak Berubah, Apakah Berarti Lamaran Tidak Dilirik oleh HR? Simak Penjelasannya
Muri-Jelantah2
Dari Limbah Dapur Jadi Uang, Gerakan Minyak Jelantah di Jateng Raih Rekor MURI
pinteresrt,rayditho
Gule Bustaman Semarang, Gulai Kambing Tanpa Santan yang Menyimpan Sejarah Ratusan Tahun

Terpopuler

Magang Kemnaker 2026. (instagram.com/@kemnaker)
Berapa Batas Maksimal Lamar Perusahaan di Magang Kemnaker 2026? Ini Cara Memilih Lowongan Magang di MagangHub
Biodata Fathimah Azzahra BEM UI: jurusan, umur, asal, alumni SMA, orang tua, rekam jejak organisasi, dan akun media sosial.
Biodata Fathimah Azzahra BEM UI Anak Siapa, Jurusan Apa, Orang Mana, Umur Berapa, Alumni SMA Mana, Akun Media Sosial
Arti Live Komal TikTok
Apa Itu Komal di Live TikTok? Tren Viral Sering Jadi Postingan FYP
Cara Aktifkan Fitur Sorotan di TikTok Terbaru
Cara Aktifkan Fitur Sorotan di TikTok, Viral Fitur Baru Pengguna Ramai Dicari
PXL_20261031_201707960
Oase Malioboro Resmi Diperkenalkan, Hadirkan Ruang Kreatif Berbasis Filosofi Jawa di Yogyakarta