AI Bukan Cuma Soal Teknologi, Mahasiswa di UAJY Diajak Memahami Persoalan Manusia

Bagikan :
UAJY menjadi tuan rumah AI Bootcamp APTIK pada 6–11 Oktober 2026. Mahasiswa dari lima kampus belajar AI dan mengembangkan prototipe solusi sosial.

KabarJawa.com – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menjadi tuan rumah Artificial Intelligence (AI) Bootcamp & National Competition yang diselenggarakan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) pada 6–11 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa ilmu komunikasi dari lima perguruan tinggi untuk mempelajari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) sekaligus mengembangkan prototipe solusi berdasarkan persoalan yang ditemukan di masyarakat.

Mengusung tema “Magnifica Humanitas: Lead Beyond AI for Communication Students”, kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara, Yogyakarta. Program ini menggabungkan pembelajaran melalui modul, observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat, hingga pengembangan prototipe berbantuan perangkat AI.

Lima perguruan tinggi yang berkolaborasi dalam kegiatan ini adalah Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UNIKA ATMA JAYA), Universitas Katolik Soegijapranata, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), serta UAJY sebagai tuan rumah.

Baca juga  Daftar Wisata Jogja Ramah di Dompet, Tetap Bisa Liburan Meski Belum Gajian: Ada yang Gratis!

Mahasiswa Belajar AI melalui 14 Modul dan Observasi Lapangan

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mengikuti 14 modul pembelajaran dengan pendampingan dosen dari perguruan tinggi penyelenggara. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami pemanfaatan AI dan menerapkannya dalam proses pengembangan solusi.

Pembelajaran tidak berhenti pada materi di kelas. Mahasiswa juga diajak mengamati persoalan di sejumlah lokasi di Yogyakarta dan mewawancarai masyarakat untuk memperoleh informasi secara langsung. Hasil pengamatan dan wawancara tersebut menjadi bahan awal untuk mengidentifikasi persoalan yang dapat dikembangkan menjadi solusi.

Dalam prosesnya, mahasiswa bekerja secara berkelompok melalui tahapan empathize, define, dan idea. Setelah mengidentifikasi persoalan, mereka mengembangkan prototipe dengan bantuan perangkat AI.

Karya yang dihasilkan kemudian dipresentasikan dalam kompetisi di hadapan dewan juri pada Sabtu (10/10/2026). Presentasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang menghubungkan materi dalam modul dengan penerapan AI untuk menjawab persoalan yang ditemukan peserta.

Berawal dari Hibah Dikti pada 2025

Ketua Tim Penyelenggara APTIK AI Bootcamp & National Competition, Drs. Mario Antonius Birowo, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Tahun 2025.

Baca juga  Gotong Royong, Tepo Seliro, dan Toleransi: Pesan dari Dialog di UAJY

Pada tahun tersebut, Mario bersama tim mengumpulkan data dari berbagai sumber kredibel. Data yang terkumpul kemudian diolah menjadi 14 modul pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan AI Bootcamp & National Competition pada 2026.

Mario mengatakan, perkembangan mahasiswa terlihat sepanjang kegiatan, mulai dari tahap awal pembelajaran hingga penyusunan prototipe.

“Hari pertama kami melihat mahasiswa masih meraba-raba, apa sih kira-kira yang akan didapat kemudian dari hari-hari berikutnya mulai kelihatan bagaimana bentuk perkembangan mahasiswa, karena memang modul yang dibuat dengan sistematis tersebut akan terasa tautannya atau jalinannya yang utuh hingga acara puncaknya hari ini (Sabtu), berupa karya yang kita namakan prototipe hingga mempraktikan produk AI yang relevan dengan anak ilmu komunikasi, ini menjadi seperti laboratorium di mana mahasiswa bereksperimen, dimana nantinya jika mereka mempunyai waktu yang lebih panjang mereka akan membuat sesuatu yang lebih bagus lagi,” tambah Mario.

Menurut Mario, rangkaian modul yang disusun secara sistematis menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran tersebut. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari AI, tetapi juga bereksperimen dengan mengembangkan prototipe yang relevan dengan bidang ilmu komunikasi.

Peserta Mendapat Wawasan dari Berbagai Latar Belakang

Selain mempelajari pemanfaatan AI, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertukar wawasan dengan peserta dari perguruan tinggi lain.

Baca juga  Desa Adaptif AI (DESAI) Jadi Upaya UAJY dan STP AMPTA Berdayakan Masyarakat Desa di Era Digital

Michael Marcellino, salah satu peserta dari UKWMS, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai kesempatan mendapatkan wawasan dari peserta dengan latar belakang berbeda menjadi salah satu pengalaman yang berkesan.

“Pengalaman yang luar biasa bisa mendapat insight dari berbagai macam latar belakang, terima kasih banyak kepada Bapak/Ibu dosen yang sudah memberikan ilmu selama kegiatan ini,” ungkap Michael.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi bagian dari pelaksanaan program yang mempertemukan mahasiswa dan dosen dari lima kampus anggota APTIK. Para peserta mengikuti pembelajaran dan mengembangkan prototipe melalui rangkaian kegiatan yang sama.

Tim penyelenggara berasal dari sejumlah perguruan tinggi anggota APTIK, yakni Drs. Mario Antonius Birowo, M.A., Ph.D. dan Pupung Arifin, S.Sos., M.Si. dari UAJY; Dr. Finsensius Yuli Purnama, S.Sos., M.Med.Kom. dari UKWMS; Dr. Ir. Lukas, S.T., MAI., CISA., IPU., Dr.phil. Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si., dan Paskalia, S.I.Kom., M.Si. dari UNIKA ATMA JAYA; Inosensia E. I. Ndiki Satu, S.Sos., M.I.Kom. dari UNWIRA; serta Elizabeth Florence Warikar, S.I.Kom., M.I.Kom. dari Universitas Katolik Soegijapranata.

Melalui AI Bootcamp & National Competition, APTIK berharap mahasiswa ilmu komunikasi tidak hanya memahami perkembangan teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kreatif dan bertanggung jawab untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi masyarakat.

Berita Terbaru

Ilustrasi rumah joglo. Menelisik sejarah sosial Yogyakarta lewat arsitektur Ndalem Joglo: dari politik tata ruang keraton hingga sekat kaku kuasa gender. (AI)
Apakah Rumah Joglo Benar-Benar “Rumah Jawa”? Mengenal Ragam Joglo di Berbagai Daerah
Ulasan tatanan pekarangan dan tata ruang rumah Joglo, mengurai harmoni orientasi kosmis, fungsi bangunan, serta privasi Jawa. (AI)
Mengapa Rumah Joglo Tidak Dibangun Sembarangan di Dalam Pekarangan?
Kajian filosofi Memayu Hayuning Bawana pada rumah Joglo: harmoni semesta, tata ruang kosmologis, dan kearifan vernakular Jawa. (AI)
Rumah Joglo dan Filosofi “Memayu Hayuning Bawana”: Ketika Arsitektur Tidak Hanya Bicara soal Rumah
Proses pembuatan arumanis di rumah produksi Arumanis Haji Ardi di Jl. Rangsang, Selomartani, Kalasan, Sleman, D.I. Yogyakarta. (Bagus AW/Kabar Jawa)
Kisah Inspiratif Haji Ardi Berjuang di Tengah Krisis Moneter hingga Menjadi Raja Arumanis Jogja
WhatsApp Image 2026-10-13 at 19.04
AI Bukan Cuma Soal Teknologi, Mahasiswa di UAJY Diajak Memahami Persoalan Manusia

Terpopuler

glenn-carstens-peters-npxXWgQ33ZQ-unsplash
Pengumuman PIMNAS 2026 Apakah Sudah Rilis? Ini Jadwal dan Cara Cek Hasil Seleksi
Bagaimana Anda Menerapkan Inspirasi Tersebut untuk Kemajuan Penguasaan Kompetensi Ketik Minimal 1 Penerapan untuk Kemajuan Penguasaan Kompetensi
Kunci Jawaban PMM: Bagaimana Anda Menerapkan Inspirasi Tersebut untuk Kemajuan Penguasaan Kompetensi? Ketik Minimal 1 Penerapan
Romo Yallo atau RD Yakobus Longa, imam projo Keuskupan Agung Kupang, meninggal 8 Oktober 2026. Ini profil dan kabar dukanya.
Romo Yallo Siapa? Ini Identitas dan Penyebab Imam Diosesan Projo Kauskupan Agung Kupang Meninggal Dunia Kenapa
Klasemen Rookie of the Year Moto3 Terbaru 2026
Klasemen Rookie of the Year Moto3 Terbaru Usai GP Jerman 2026, Veda Pratama Naik ke Posisi Berapa?
Mahanni Yulindha Pratiwi adalah Wakil Bupati Klaten terpilih. Simak asal, usia, pekerjaan, partai, keluarga, dan profil lengkapnya.
Mahanni Yulindha Pratiwi Orang Mana, Umur, Kerja Apa, Partai Apa? Biodata Wakil Bupati Klaten Istri Mendiang Benny Indra