
Kabar Jawa – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana masyarakat Jawa menyampaikan kabar duka? Alih-alih langsung memakai kata “mati” yang terasa tajam dan menghentak, telinga kita lebih sering menangkap untaian kalimat yang teduh: “Sampun katimbalan kondur” (sudah dipanggil pulang) atau “Tilar donya sowan ing zaman kelanggengan” (meninggalkan dunia fana menghadap ke alam keabadian).
Kata pulang atau mulih dalam tradisi Jawa bukan sekadar penghias bibir pemanis lelayu. Di dalamnya termaktub cara pandang kosmis yang tenang dan mendalam: bahwa peristiwa meninggalnya seseorang bukanlah akhir kemusnahan segalanya, melainkan perjalanan balik seorang musafir yang telah merampungkan tugas pengembaraannya di bumi.
Ragam Ungkapan Jawa tentang Kematian di Masyarakat Jawa
Dalam lanskap linguistik Jawa, tingkatan tutur (unggah-ungguh) mencerminkan kehalusan budi pekerti serta penghormatan terhadap martabat manusia. Kata untuk menyebut kematian memiliki lapisan makna yang berjenjang:
- Mati: Istilah tingkat dasar (ngoko) yang lazim ditujukan untuk hewan atau benda mati. Jika disematkan kepada manusia, kata ini terasa kasar dan hampa empati.
- Pejah: Kosakata tingkat menengah (krama madya) yang menyatakan berhentinya detak kehidupan biologis tanpa nuansa emosi yang meluap-luap.
- Seda: Diksi terhormat (krama inggil) yang disematkan kepada sesama manusia untuk memuliakan kepergiannya.
- Surut / Tilar Donya: Ungkapan puitis yang bermakna meninggalkan panggung duniawi. Tubuh wadag boleh runtuh, tetapi eksistensi sejati sang jiwa hanya berpindah alam.
- Kondur / Mantuk ing Kasedan Jati: Tingkatan rasa bahasa tertinggi yang menegaskan bahwa sang sukma telah berpulang ke kediaman aslinya yang abadi.
Perbedaan kata ini membuktikan bahwa sejak tataran bahasa, orang Jawa tidak menempatkan kematian sebagai momok yang mengerikan, melainkan sebuah proses transisi yang sakral dan penuh takzim.
Hakikat Perjalanan Hidup: Singgah Minum di Warung Semesta
Pandangan hidup Jawa memotret eksistensi manusia melalui kacamata pengembaraan. Pepatah klasik yang amat masyhur menuturkan: “Urip neng alam donya iku mung mampir Ngombe “hidup di dunia hanyalah mampir sejenak untuk membasahi tenggorokan. Kata “minum” di sini menyiratkan sifat kesementaraan yang sangat ringkas.
Bayangkan seorang musafir yang menempuh rute panjang melintasi padang luas; ia hanya berhenti beberapa saat di sebuah kedai untuk melepas dahaga. Begitu cangkir kosong dan tenaga pulih, ia wajib bangkit melanjutkan perjalanannya menuju destinasi akhir. Dunia ini bukanlah rumah tinggal, melainkan rumah singgah.
Siklus pengembaraan ini diabadikan secara runut dalam kesusastraan Jawa melalui tiga fase akbar kehidupan (konsep tigaan):
- Purwa (Awal): Gerbang permulaan saat roh ditiupkan ke dalam rahim ibu hingga tangis pertama bayi pecah menyapa dunia.
- Madya (Tengah): Babak pergulatan hidup dari masa muda, dewasa, mencari rezeki, hingga membangun peran sosial di tengah masyarakat.
- Wasana (Akhir): Masa purna di usia senja tatkala raga mulai renta dan kesadaran batin bersiap menjemput kepulangan.
Perjalanan ini bahkan digubah para leluhur ke dalam sebelas metrum tembang macapat. Dimulai dari Maskumambang (janin yang terapung di rahim), Mijil (terlahir ke bumi), Sinom (masa muda bersemi), melewati liku asmara dan pernikahan dalam Asmarandana serta Gambuh, hingga berujung pada tembang Pangkur (mulai undur diri dari gemerlap nafsu), Megatruh (megat roh, terlepasnya nyawa dari raga), dan diakhiri tembang Pucung (kain kafan pembungkus jasad yang siap menyatu kembali dengan bumi).
Mengapa Bahasa Kematian Dibuat Lebih Halus?
Kematian acap kali menghadirkan guncangan batin yang dahsyat bagi sanak famili yang ditinggalkan. Di sinilah kearifan lokal Jawa bekerja melalui instrumen kehalusan tutur kata. Mengapa kabar duka tidak disampaikan secara telanjang dan blak-blakan?
1. Meredam Gejolak Emosi (Nglerepake Rasa)
Kultur Jawa sangat mengagungkan keteraturan batin (tentrem ing manah). Berita lelayu yang dikemas dengan kata kondur atau seda memberikan efek psikologis penyejuk (cooling down). Kalimat yang santun meredam kepanikan histeris dan membantu keluarga yang berduka untuk lebih cepat mencapai fase ikhlas (rila), bersyukur (narima), dan tabah (sabar).
2. Penghormatan atas Pelepasan Atribut Duniawi
Ketika manusia mengembuskan napas terakhir, seluruh status fana yang disandangnya gugur seketika. Harta kekayaan (semat), pangkat jabatan (drajat), maupun pengaruh kekuasaan (kramat) hanyalah ageman atau pakaian sewaan yang harus ditanggalkan (dilukar). Penyebutan bahasa yang luhur menandai bahwa individu tersebut kini dinilai murni dari amal kebajikan dan keluhuran budinya semasa hidup.
Kematian sebagai Bagian dari Keseimbangan Kosmis
Dalam kosmologi Jawa, tubuh fisik manusia dipandang sebagai miniatur semesta (jagad cilik) yang bertaut erat dengan alam raya (jagad gedhe). Sejak hari pertama lahir, manusia meyakini dirinya didampingi oleh saudara gaib pelindung: kakang kawah adhi ari-ari (air ketuban sebagai kakak, plasenta sebagai adik, serta darah dan tali pusat).
Keempat elemen pengawal ini bersumber dari empat anasir alam:
- Bumi (tanah pembentuk daging, tulang, dan otot),
- Air (darah dan cairan tubuh),
- Api (panas tubuh dan semangat jiwa),
- Angin (napas yang berhembus melalui pori-pori dan sembilan lubang tubuh/babahan hawa sanga).
Ketika ajal tiba, kematian bukanlah kehancuran yang aneh, melainkan proses pengembalian pinjaman kosmis menuju keseimbangan semesta. Unsur air kembali ke air, angin melarut ke udara, api padam ke asalnya, dan tanah kembali menyatu ke haribaan bumi melalui ritual pemakaman ngesur tanah. Manusia tidak binasa; raga kasarnya terurai kembali menjadi elemen semesta, sementara jiwanya yang murni melesat kembali ke alam keabadian.