
Kabar Jawa – Pada hari-hari awal bulan Dzulhijjah, banyak umat Islam yang menjalankan puasa sunnah. Namun, bagaimana jika masih memiliki utang puasa Ramadhan? Bolehkah niat digabungkan? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Bulan Dzulhijjah, khususnya 10 hari pertamanya, merupakan salah satu waktu paling istimewa dalam kalender Islam. Rasulullah Muhammad SAW bahkan menyebut bahwa amal saleh yang dilakukan dalam 10 hari awal Dzulhijjah lebih utama dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali jihad yang dilakukan dengan seluruh jiwa dan harta namun tidak kembali.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, serta menjadi dasar kuat umat Islam dalam memaksimalkan ibadah di hari-hari tersebut.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa sunnah, terutama pada tanggal 9 Dzulhijjah yang dikenal sebagai hari Arafah. Puasa di hari Arafah memiliki keutamaan luar biasa, sebagaimana disampaikan dalam hadits riwayat Muslim: dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.
Namun demikian, tak sedikit umat Muslim yang belum menunaikan kewajiban mengganti (qadha) puasa Ramadhan. Di tengah semangat menunaikan puasa sunnah ini, muncul pertanyaan: bolehkah puasa Dzulhijjah digabungkan dengan puasa qadha Ramadhan?
Hukum Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan
Dari sisi fikih, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Dalam buku Fikih Puasa karya Ali Musthafa Siregar, dijelaskan bahwa sebagian ulama memperbolehkan penggabungan antara puasa qadha dan puasa sunnah seperti Dzulhijjah. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman bahwa dua jenis ibadah dapat digabungkan niatnya selama tujuannya selaras dan tidak ada larangan yang jelas dari syariat.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh mayoritas ulama dari mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Mereka sepakat bahwa seorang Muslim boleh menjalankan satu ibadah puasa dengan dua niat: untuk mengganti puasa Ramadhan sekaligus mendapatkan keutamaan puasa sunnah, misalnya puasa Arafah.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Fatawa as-Shiyam. Beliau menyatakan bahwa jika seseorang melaksanakan puasa qadha pada hari yang juga disunnahkan berpuasa seperti Arafah atau Asyura, maka puasanya sah dan orang tersebut akan memperoleh dua pahala: pahala qadha dan pahala sunnah.
Niat Puasa Gabungan Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan
Bagi yang ingin menggabungkan kedua ibadah tersebut, berikut bacaan niatnya sebagaimana dicontohkan oleh Nahdlatul Ulama Jawa Timur:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ ذُو الْحِجَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati syahri Dzulhijjah lillāhi ta‘ālā.
Artinya: Saya berniat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa Ramadhan dan puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Taala.
Jika hanya ingin melakukan puasa Dzulhijjah secara terpisah, maka niatnya adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُو الْحِجَةٌ سُنَّةٌ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri Dzulhijjah sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Taala.
Sedangkan untuk niat qadha Ramadhan saja tanpa penggabungan, bacaannya:
نَوَيْتُ صَوْمَ قَضَاءِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma qadhā’i Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: Aku berniat mengqadha puasa Ramadhan karena Allah Taala.
Perlu Dipahami: Mana yang Lebih Utama?
Meski penggabungan niat diperbolehkan oleh sebagian besar ulama, ada juga pandangan yang menyarankan agar kedua puasa dilakukan secara terpisah. Dalam buku Buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah karya Nur Solikhin dijelaskan bahwa menyegerakan qadha puasa adalah prioritas, terlebih jika penundaan terjadi tanpa alasan syar’i. Menjalankan puasa sunnah sebelum menyelesaikan puasa wajib dikhawatirkan mengurangi nilai ibadah tersebut.
Beberapa ulama juga berpendapat bahwa keutamaan puasa Dzulhijjah akan lebih maksimal apabila dilakukan secara khusus, tidak dicampur dengan puasa wajib. Maka, bagi mereka yang ingin mengejar pahala terbaik dari setiap amalan, disarankan menyelesaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu sebelum memasuki hari-hari utama bulan Dzulhijjah.
Namun demikian, dalam situasi tertentu seperti keterbatasan waktu atau kondisi fisik, penggabungan niat menjadi solusi bijak agar ibadah tetap bisa dilaksanakan tanpa meninggalkan kewajiban.
Pandangan NU: Jalan Tengah yang Menyejukkan
Pandangan moderat datang dari ulama yang dirujuk Nahdlatul Ulama melalui kitab Asnal Mathalib karya Syekh Zakariya Al-Anshari dan I’anatut Thalibin karya Sayyid Bakri. Keduanya menjelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan puasa qadha pada hari-hari yang disunnahkan berpuasa tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa sunnah tersebut, walaupun niatnya hanya untuk qadha.
Ini memberikan ruang dan kemudahan bagi umat Islam yang ingin tetap memperoleh berkah hari-hari utama dalam Islam meskipun masih memiliki tanggungan puasa wajib.
Kesimpulan
Menggabungkan puasa Dzulhijjah dengan qadha Ramadhan diperbolehkan menurut mayoritas ulama fikih, dan hal ini sah dari sisi hukum. Namun, tetap lebih utama jika keduanya dilakukan secara terpisah untuk mendapatkan keutamaan masing-masing secara maksimal.
Jika waktu dan kondisi memungkinkan, sebaiknya lunasi terlebih dahulu utang puasa Ramadhan. Tetapi jika tidak, maka menggabungkan keduanya menjadi pilihan yang sah dan tetap mendatangkan pahala.
***