Magelang, Kabar Jawa – Banyak wisatawan datang ke Magelang hanya untuk berburu foto di pelataran Candi Borobudur, lalu langsung beranjak pergi.
Padahal, jika Anda melangkah sekitar dua hingga tiga kilometer ke arah tenggara, terdapat sebuah pemukiman asri yang menawarkan cara pandang berbeda dalam menikmati perjalanan.
Desa Wisata Candirejo berdiri anggun di Kecamatan Borobudur, membentang tepat di bawah naungan perbukitan Menoreh yang hijau dan tenang.
Nama Candirejo sendiri lahir dari perpaduan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu Candi yang bermakna batu dan Rejo yang berarti subur.
Penggabungan kata ini menggambarkan lanskap alamnya secara sempurna, sebuah wilayah yang dihiasi hamparan bebatuan perbukitan, namun dianugerahi tanah dataran yang sangat subur untuk lahan pertanian.
Diapit oleh aliran Sungai Sileng dan Sungai Progo, Candirejo menyuguhkan pemandangan pedesaan yang dipenuhi persawahan, kebun palawija, serta rimbunnya pepohonan tropis.
Perjalanan tempat ini menjadi desa wisata tidak dibangun secara mendadak lewat proyek mercusuar, melainkan tumbuh bertahap sejak perintisan gagasan masyarakat pada tahun 1997, penetapan status desa binaan pada 1999, hingga peresmian resminya sebagai desa wisata internasional pertama di Magelang pada tahun 2003.
Aktivitas Pedesaan dan Pesona Alam Candirejo
Daya tarik utama Candirejo bukanlah bangunan buatan yang dirancang khusus sebagai latar foto, melainkan irama kehidupan pedesaan yang mengalir alami dan menenangkan.
Untuk menikmati kesegaran udara pagi tanpa gangguan polusi udara maupun suara mesin, pengunjung diajak mengelilingi lorong-lorong desa menggunakan armada tradisional seperti sepeda onthel atau dokar (andong).
Menyusuri jalanan kecil sembari melewati hamparan sawah dan menyapa warga yang sedang beraktivitas di halaman rumah menjadi pengalaman yang sangat menyegarkan pikiran.
Selain suasana pemukiman yang hangat, Candirejo menyimpan beberapa keajaiban lanskap alam yang dirawat dengan baik oleh warga lokal.
Salah satunya adalah Tuk Banyu Asin yang berlokasi di Dusun Kaliduren, sebuah mata air hangat dengan sensasi rasa asin unik yang keluar dari sela bebatuan tepi sungai meskipun wilayah ini berada jauh dari laut.
Di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut Dusun Butuh, terdapat Watu Kendil, yaitu batu alam raksasa setinggi tiga meter yang bertengger unik di bibir tebing Pegunungan Menoreh.
Desa ini juga memiliki kawasan Tempuran di Dusun Pucungan yang menjadi titik temu tiga aliran sungai utama, serta Sendang Kapit Kuburan atau Banyu Perwitosari di Dusun Brangkal, yaitu mata air bersejarah peninggalan era Hindu yang tetap memancarkan air jernih di tengah rimbunnya hutan bambu.
Bagi pecinta kegiatan luar ruangan, pengelola menyediakan jalur sunrise tracking ke perbukitan Menoreh untuk menyambut fajar, serta petualangan bamboo rafting maupun rafting karet di sepanjang aliran sungai desa.
Hal yang tak kalah berkesan saat berkunjung ke Candirejo adalah kesempatan untuk melebur dan berinteraksi langsung dengan warga setempat.
Pariwisata di desa ini dirancang agar pengunjung tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan terlibat aktif dalam kegiatan harian masyarakat.
Di Dusun Palihan, wisatawan dapat singgah ke dapur warga untuk melihat dan mempraktikkan langsung pembuatan slondok, yaitu olahan keripik singkong khas yang dibuat dengan resep bumbu tradisional secara turun-temurun.
Sementara di Dusun Butuh, Ngaglik, dan Wonosari, para ibu pengrajin dengan senang hati mengajari pengunjung seni menganyam daun pandan menjadi tikar, topi, dan aneka kerajinan tangan.
Bagi yang menyukai dunia pertanian, paket agrotani memberi kesempatan kepada wisatawan untuk melepas alas kaki dan turun langsung ke lumpur sawah bersama para petani.
Warga lokal akan membimbing pengunjung cara menanam, menyiangi, hingga memanen tanaman palawija seperti singkong dan cabai.
Kehidupan budaya desa pun terasa begitu hidup melalui pertunjukan seni tradisional seperti Karawitan, Jathilan, Kubrosiswo, Dayakan, dan Gatholoco.
Jika datang pada waktu yang tepat, wisatawan juga dapat menyaksikan secara langsung prosesi upacara adat Nyadran di Gunung Mijil menjelang bulan Ramadan atau tradisi Saparan Perti Desa sebagai wujud rasa syukur bersama atas kelimpahan hasil panen.
Paket Wisata dan Rincian Biaya Terverifikasi
Seluruh aktivitas pariwisata dikelola secara profesional dan transparan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo (KDWC). Berikut adalah daftar paket wisata terverifikasi beserta kisaran biayanya (publish rate untuk umum dan contract rate untuk agen perjalanan):
| Nama Paket Wisata | Durasi & Ketentuan | Fasilitas Terintegrasi | Biaya Publish / Pax | Biaya Contract / Pax |
| Dokar Tour | ± 2 Jam | Dokar, local guide, kunjungan industri rumah & agrotani, gending gamelan singkat, rehat teh & kudapan, donasi desa. | Rp 97.500 | Rp 80.000 |
| Cycling Tour | ± 2 Jam | Sepeda onthel, local guide, kunjungan home industry, agrotani, teh & kudapan, donasi. | Rp 97.500 | Rp 80.000 |
| Tamasya Keliling Desa | ± 1 Jam (Min. 2 pax) | Pemandu jalan kaki, minuman teh, kudapan lokal, dan donasi desa. | Rp 35.000 | Rp 20.000 |
| Wisata Menoreh (Sobo Gunung) | ± 4 Jam (Min. 2 pax) | Armada Jeep, pemandu lokal, Tuk Banyu Asin, air mineral, dan donasi. | Rp 200.000 | Rp 150.000 |
| Cooking Lesson | ± 4 Jam (Min. 2 pax) | Dokar, pemandu, bahan & praktik masak masakan Jawa, makan siang, teh & kudapan. | Rp 275.000 | Rp 225.000 |
| Home Stay (Live-In) | Per Malam / Pax | Kamar di rumah warga, pemandu, home industry, makan malam, sarapan, teh & kudapan. | Rp 297.500 | Rp 200.000 |
| Sunrise Tracking | Pagi Hari (Dusun Butuh) | Pemandu lokal, air mineral, teh, kudapan, dan donasi. | Rp 100.000 | Rp 75.000 |
| Bamboo Rafting (Gethek) | ± 3 Jam (Min. 5 pax) | Gethek bambu, rompi pelampung, helm, river guide, makan, transportasi lokal. | Rp 175.000 | Rp 150.000 |
| Rafting Karet | ± 3 Jam (Min. 6 pax) | Perahu karet, helm, pelampung, river guide, makan, dan transportasi lokal. | Rp 125.000 | Rp 105.000 |
| Pementasan Kesenian | ± 2 Jam (Per Grup) | Pertunjukan tarian/seni tradisional pilihan, pemandu, teh, kudapan, donasi. | Rp 2.000.000 | Rp 1.500.000 |
Catatan: Bagi pengunjung yang hanya ingin menyewa kamar penginapan rumah warga (homestay), tarif sewa kamar berkisar mulai dari Rp 250.000 per malam.
Etika Bertamu dan Tata Krama Berwisata
Memasuki kawasan pedesaan Jawa pada dasarnya adalah bertamu ke dalam ruang kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Oleh karena itu, menjaga etika dan sopan santun menjadi kunci utama agar kunjungan memberikan kesan yang hangat dan saling menghormati.
Warga Candirejo sangat menjunjung tinggi budaya guyub rukun. Menyapa warga dengan senyuman dan ucapan ramah seperti nuwon atau dherek langkung saat melintasi pemukiman akan selalu dibalas dengan kehangatan khas warga desa.
Selain keramahan, pengunjung diimbau untuk mengenakan pakaian yang sopan dan pantas, terutama ketika berkunjung ke rumah warga, tempat pengrajin, maupun saat menyaksikan upacara adat.
Privasi warga juga perlu dihormati dengan selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil foto kegiatan pribadi masyarakat, anak-anak, atau prosesi ritual tertentu.
Sesuai dengan prinsip dasar ekowisata, pengunjung diharapkan senantiasa menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta turut menjaga kelestarian sumber mata air dan vegetasi di sepanjang jalur penjelajahan.