Kabar Jawa – Menyusuri Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, belum lengkap rasanya tanpa mampir ke Kecamatan Sokaraja. Berjarak sekitar 8 kilometer di sebelah timur Purwokerto, kawasan ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata kuliner yang menyimpan hidangan khas dengan cita rasa berbeda dari soto pada umumnya: Sroto Sokaraja.
Sekilas, sajian ini memang tampak seperti soto berkuah kuning yang biasa dijumpai di berbagai daerah. Namun, begitu suapan pertama menyentuh lidah, karakter rasanya langsung terasa berbeda. Perpaduan kuah kaldu berbumbu rempah, sambal kacang, potongan ketupat, dan kerupuk cantir menghadirkan pengalaman kuliner yang lekat dengan identitas masyarakat Banyumas.
Bukan sekadar makanan pengganjal lapar, Sroto Sokaraja telah menjadi bagian dari perjalanan kuliner dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Semangkuk Sroto dengan Warna dan Isian yang Menggoda
Daya tarik Sroto Sokaraja sudah terlihat sejak hidangan disajikan. Semangkuk sroto menghadirkan perpaduan warna dari kuah kecokelatan, potongan ketupat, bihun, tauge, daging, hingga taburan kerupuk cantir merah dan putih.
Kerupuk berbahan dasar singkong tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Sroto Sokaraja dari hidangan soto lainnya. Ketika terkena kuah panas, teksturnya perlahan melunak dan berubah sedikit kenyal. Sensasi ini memberikan variasi tekstur dalam setiap suapan.
Di bagian dasar mangkuk, terdapat bihun atau soun, potongan ketupat, serta tauge muda yang telah dikukus. Kombinasi bahan tersebut menghadirkan perpaduan tekstur lembut dan renyah.
Untuk isiannya, pengunjung bisa memilih daging ayam kampung maupun sapi. Beberapa warung juga menyediakan pilihan babat iso hingga sekengkel urat bagi pencinta olahan jeroan.
Semua bahan kemudian disiram kuah kaldu panas yang diracik menggunakan berbagai rempah, seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan serai. Aroma rempahnya menguar saat hidangan tersaji, menambah daya tarik kuliner khas Banyumas ini.
Sambal Kacang, Rahasia Cita Rasa Sroto Sokaraja
Jika ada satu elemen yang membuat Sroto Sokaraja begitu mudah dikenali, jawabannya adalah sambal kacang.
Berbeda dengan kebanyakan soto Nusantara yang mengandalkan sambal cabai sebagai pelengkap, Sroto Sokaraja justru menggunakan racikan kacang tanah goreng yang dihaluskan bersama cabai, gula jawa, dan aneka bumbu dapur.
Sambal tersebut kemudian dicampurkan langsung ke dalam kuah. Hasilnya, warna kuah berubah menjadi kecokelatan dengan tekstur lebih pekat dan cita rasa gurih yang khas.
Sentuhan gula jawa memberikan sedikit rasa manis yang berpadu dengan gurihnya kacang dan kaldu. Tingkat kepedasannya pun relatif dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, bergantung pada racikan masing-masing penjual.
Perpaduan inilah yang membuat Sroto Sokaraja memiliki karakter rasa tersendiri. Kuahnya bukan hanya menjadi pelengkap isian, tetapi justru menjadi bagian utama yang membangun keseluruhan cita rasa.
Ketupat dan Mendoan, Pasangan yang Sulit Dipisahkan
Keunikan Sroto Sokaraja tidak berhenti pada kuah sambal kacangnya. Penggunaan ketupat atau kupat sebagai pengganti nasi juga menjadi identitas penting hidangan ini.
Ketupat yang dipotong-potong memiliki tekstur padat tetapi lembut. Ketika bercampur dengan kuah kacang, potongannya mampu menyerap bumbu sehingga menghasilkan rasa gurih dalam setiap gigitan.
Pengalaman bersantap biasanya semakin lengkap dengan kehadiran tempe mendoan hangat. Tempe berbalut adonan tepung berbumbu tersebut digoreng setengah matang hingga menghasilkan tekstur lembut dengan bagian luar yang masih sedikit renyah.
Mendoan umumnya disantap bersama sambal kecap dan potongan cabai rawit segar. Perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas dari pelengkap ini membuat pengalaman menikmati Sroto Sokaraja semakin berkesan.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyumas, kombinasi sroto dan mendoan menjadi salah satu pengalaman kuliner yang patut dicoba.
Menelusuri Jejak Sejarah Sroto Sokaraja
Di balik kelezatannya, Sroto Sokaraja juga menyimpan cerita panjang tentang perkembangan kuliner lokal. Racikan sroto di kawasan Banyumas diyakini terbentuk melalui proses akulturasi budaya, termasuk pengaruh tradisi kuliner Tiongkok yang kemudian beradaptasi dengan selera masyarakat setempat.
Salah satu cerita yang berkembang berkaitan dengan sebutan Soto Kecik. Nama tersebut merujuk pada lokasi awal penjualannya yang berada di bawah pohon kecik di sebelah selatan alun-alun.
Seiring waktu, hidangan ini semakin dikenal dan menjadi salah satu ikon kuliner Sokaraja. Popularitasnya berkembang pesat sejak sekitar dekade 1970-an, ketika semakin banyak pedagang yang memperkenalkan racikan sroto kepada masyarakat luas.
Menariknya, tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang. Sejumlah usaha sroto dikelola secara turun-temurun, bahkan telah memasuki generasi ketiga. Resep keluarga, racikan bumbu, serta cara pengolahan yang dipertahankan menjadi bagian penting dalam menjaga karakter rasa Sroto Sokaraja.
Warisan kuliner ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah hidangan sederhana dapat tumbuh menjadi identitas daerah.
Berburu Sroto di Sokaraja, dari Warung Legendaris hingga Pusat Oleh-Oleh
Menjelajahi kuliner Sokaraja relatif mudah karena sejumlah warung sroto berada di sepanjang jalur utama kecamatan tersebut.
Kawasan ini juga dikenal sebagai sentra jajanan khas Banyumas. Setelah menikmati semangkuk sroto, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan untuk berburu oleh-oleh, mulai dari getuk goreng, keripik tempe, hingga nopia.
Salah satu tempat yang dikenal sebagai pelopor sajian Sroto Sokaraja adalah Raja Soto Lama H. Suradi.
Warung yang telah beroperasi sejak 1978 ini berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 48, Sokaraja. Tempat makan tersebut menawarkan area bersantap yang luas dan bersih, dilengkapi fasilitas parkir, toilet, serta musala.
Pilihan menunya cukup beragam. Pengunjung dapat menikmati sroto ayam, sroto daging sapi, babat iso, hingga sekengkel urat yang menjadi salah satu pilihan favorit pelanggan.
Untuk urusan harga, satu porsi sroto di warung ini ditawarkan sekitar Rp15.000. Dengan harga tersebut, pengunjung dapat menikmati sajian kuliner khas Banyumas yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Akses Mudah, Cocok untuk Wisata Kuliner di Banyumas
Sokaraja menjadi salah satu kawasan yang mudah dijangkau oleh wisatawan, baik dari pusat Kota Purwokerto maupun dari daerah lain yang melintasi jalur utama Banyumas.
Jaraknya yang relatif dekat membuat kawasan ini cocok dimasukkan dalam agenda perjalanan singkat. Wisatawan dapat menyempatkan diri berburu kuliner sekaligus membeli berbagai oleh-oleh khas daerah.
Menikmati Sroto Sokaraja pada siang atau sore hari bisa menjadi pilihan untuk melengkapi perjalanan di Banyumas. Semangkuk kuah gurih dengan sambal kacang, ketupat, dan kerupuk cantir menawarkan pengalaman rasa yang sulit ditemukan pada soto dari daerah lain.
Lebih dari sekadar kuliner tradisional, Sroto Sokaraja menjadi bukti bahwa kekayaan rasa dan tradisi lokal mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Setiap mangkuknya menyimpan cerita tentang resep keluarga, perjalanan sejarah, dan identitas kuliner masyarakat Banyumas.