Kabar Jawa – Di balik kemegahan Keraton Yogyakarta, tersimpan kisah panjang tentang kecanggihan teknologi, tatanan sosial, hingga filosofi kehidupan masyarakat Jawa. Kisah itu tidak hanya tercatat dalam manuskrip atau babad, tetapi juga melekat pada benda-benda peninggalan kerajaan yang masih terawat hingga sekarang.
Kereta kencana, keris pusaka, tombak, hingga tradisi jamasan menjadi bagian dari rekam jejak peradaban tersebut. Setiap benda memiliki cerita tersendiri. Bentuk fisiknya menunjukkan kemampuan teknologi pada zamannya, sementara ornamen, fungsi, dan perlakuan terhadapnya mencerminkan kedudukan sosial serta pandangan spiritual masyarakat Jawa.
Dengan kata lain, peninggalan keraton bukan sekadar benda antik yang tersimpan di balik etalase. Artefak tersebut merupakan sumber pengetahuan untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa membangun peradaban.
Museum Wahanarata, Menelusuri Kecanggihan Teknologi Kerajaan
Salah satu tempat untuk membaca jejak peradaban tersebut adalah Kagungan Dalem Wahanarata atau Museum Wahanarata yang berada di Jalan Rotowijayan Nomor 1, Yogyakarta.
Bangunan ini memiliki sejarah panjang. Pada 1855, ketika Sri Sultan Hamengku Buwana VI bertakhta, kawasan tersebut dibangun dengan nama Gedhong Balerata.
Pada masa itu, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal para abdi dalem yang mengurus kuda sekaligus garasi kereta pribadi milik sultan, keluarga, dan kerabat keraton.
Seiring perjalanan waktu, kawasan ini mengalami perubahan fungsi. Pada Juni 1985, tempat tersebut resmi dibuka untuk masyarakat sebagai Museum Kereta Keraton dengan koleksi awal sebanyak 18 kereta kencana.
Perubahan besar kembali dilakukan melalui renovasi dan penataan ruang pamer. Pada 18 Juli 2023, museum diresmikan kembali dengan nama Kagungan Dalem Wahanarata. Koleksinya mencakup hingga 23 kereta kencana yang ditampilkan dalam ruang pamer yang lebih tertata.
Di dalam museum, deretan kereta kerajaan memperlihatkan bahwa kendaraan pada masa lalu tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Setiap detail memiliki fungsi sekaligus makna.
Ukuran badan kereta, bentuk tempat duduk, ornamen, hingga jumlah kuda penarik dapat menjadi petunjuk untuk memahami teknologi dan kedudukan pemilik maupun penggunanya.
Kereta kencana, dengan demikian, juga menjadi simbol legitimasi kekuasaan dan penanda hierarki sosial di lingkungan kerajaan.
Dari Rangka hingga Jumlah Kuda, Kereta Kencana Merekam Hierarki Keraton
Gambaran lebih terukur mengenai fungsi dan struktur kereta kencana dapat ditemukan dalam penelitian M. Farkhan Mubaroq (2020) yang diterbitkan melalui Repositori Universitas Gadjah Mada (UGM).
Penelitian tersebut mengidentifikasi 23 nama kereta kencana yang pernah digunakan sebagai kendaraan operasional raja-raja Keraton Yogyakarta sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwana I hingga Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa kereta kencana dapat dibaca melalui dua aspek utama, yakni konstruksi teknis dan penanda status sosial.
Dari sisi konstruksi, terdapat tujuh bagian utama yang menjadi objek pengamatan, yaitu atap, badan, pintu, jendela, kursi, rumah lampu, dan roda.
Sementara itu, aspek sosial terlihat dari pembagian pengguna kendaraan, mulai dari kusir hingga penumpang. Identitas penumpang, apakah sultan, keluarga inti, atau kerabat kerajaan, turut menentukan kedudukan sebuah kereta.
Jumlah pasang kuda penarik juga menjadi salah satu penanda kebesaran. Semakin tinggi kedudukan pengguna, semakin khusus pula ketentuan kendaraan yang digunakan.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi transportasi pada masa kerajaan tidak berdiri sendiri. Perkembangannya berjalan beriringan dengan sistem pemerintahan, tata krama, dan struktur sosial keraton.
Kanjeng Kyai Ratu Jimat dan Garuda Yaksa, Dua Kereta dengan Kisah Berbeda
Di antara koleksi Museum Wahanarata, terdapat dua kereta yang memiliki catatan sejarah penting, yakni Kanjeng Kyai Ratu Jimat dan Kanjeng Kyai Garuda Yaksa.
Kanjeng Kyai Ratu Jimat (1755–1814) merupakan kereta tertua yang berkaitan dengan masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Kereta ini diperoleh dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jacob Mossel.
Dalam sejarah keraton, kereta tersebut digunakan untuk keperluan penobatan Sultan Hamengku Buwana I hingga Hamengku Buwana IV. Kedudukannya tidak hanya sebagai kendaraan kerajaan, tetapi juga sebagai benda yang memiliki nilai sakral.
Karena usia dan nilai historisnya, kereta ini kini tidak lagi digunakan. Perawatannya dilakukan melalui tradisi jamasan setiap bulan Suro, mengikuti ketentuan adat yang berlaku.
Berbeda dengan Ratu Jimat, Kanjeng Kyai Garuda Yaksa (1861) merepresentasikan perkembangan teknologi pembuatan kendaraan kerajaan pada abad ke-19.
Kereta buatan Amsterdam, Belanda, ini dikaitkan dengan pemberian Ratu Wilhelmina kepada Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Bentuknya dilengkapi ornamen mahkota emas dan mekanisme tangga otomatis.
Dengan tarikan delapan ekor kuda, Garuda Yaksa digunakan dalam sejumlah upacara penting, termasuk perayaan Garebeg Mulud dan penobatan raja. Penggunaan terakhirnya tercatat dalam penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana X.
Kedua kereta tersebut memperlihatkan dua sisi sejarah yang berbeda. Ratu Jimat menyimpan jejak awal pemerintahan dan sakralitas kerajaan, sedangkan Garuda Yaksa menunjukkan perkembangan teknologi transportasi sekaligus kemegahan upacara keraton.
Keris dan Pusaka, Lebih dari Sekadar Senjata
Jika kereta kencana merekam perkembangan teknologi transportasi, keris dan pusaka menyimpan cerita mengenai identitas, kehormatan, serta perjalanan sejarah pemiliknya.
Dalam kajian yang diterbitkan melalui Jurnal Disastra oleh Nursalim, Nazid, dan Triyanto (2026), artefak budaya Jawa seperti keris dan pusaka dipandang sebagai media representasi jati diri dan posisi sosial.
Nilai tersebut terlihat dalam sejumlah benda peninggalan yang berkaitan dengan perjalanan hidup Pangeran Diponegoro.
Salah satunya adalah Keris Kiai Nogo Siluman. Berdasarkan dokumen kesaksian Panglima Sentot Prawirodirdjo yang dibaca pelukis Raden Saleh, keris tersebut dihadiahkan Pangeran Diponegoro kepada Kolonel Cleerens sebelum akhirnya dipersembahkan kepada Raja Willem I pada 1831.
Setelah lama tersimpan di Belanda, keris tersebut dikembalikan oleh Raja Willem-Alexander kepada Presiden Joko Widodo pada 10 Maret 2020.
Ada pula Keris Kiai Ageng Bondoyudo, yang dalam tradisi Diponegoro dikenal sebagai pusaka penting. Keris ini disebut dibuat melalui peleburan tiga senjata, yakni Keris Kiai Surotomo, tombak Kiai Barutobo, dan Keris Kiai Abijoyo.
Pusaka tersebut dirawat secara pribadi oleh Pangeran Diponegoro dan dimakamkan bersama jasadnya pada 8 Januari 1855.
Selain keris, terdapat Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro, tongkat kayu sepanjang 153 sentimeter dengan ujung berbentuk cakra. Benda ini diperoleh saat Pangeran Diponegoro berziarah ke wilayah selatan Jawa pada 1815.
Tongkat tersebut kemudian dikembalikan oleh keluarga keturunan Gubernur Jenderal J.C. Baud kepada pemerintah Indonesia pada 2015.
Sementara itu, Tombak Kiai Rodhan merupakan senjata berhias benang hitam dengan mata tombak bertatahkan emas. Benda ini terlepas saat peristiwa penyergapan di Pegunungan Gowong dan telah kembali ke Indonesia sejak 1978.
Kisah benda-benda tersebut memperlihatkan bahwa sejarah pusaka tidak berhenti pada proses penciptaan atau penggunaannya. Perjalanan lintas negara, perpindahan kepemilikan, hingga proses pengembalian juga menjadi bagian dari sejarah panjang warisan budaya Indonesia.
Jamasan Pusaka, Perpaduan Pengetahuan Perawatan dan Spiritualitas
Keberadaan benda bersejarah tidak dapat dipisahkan dari upaya merawatnya. Di lingkungan keraton, salah satu tradisi yang berkaitan erat dengan pemeliharaan pusaka adalah jamasan atau siraman pusaka.
Tradisi yang dilaksanakan pada bulan Suro ini memperlihatkan perpaduan antara pengetahuan tradisional mengenai perawatan material dan nilai spiritual masyarakat Jawa.
Dalam praktiknya, jamasan bukan hanya prosesi simbolis. Pembersihan benda pusaka juga berkaitan dengan upaya menjaga kondisi material, terutama senjata berbahan logam yang rentan mengalami korosi.
Sejumlah bahan alami digunakan dalam proses tersebut. Jeruk nipis, misalnya, dikenal memiliki kandungan asam yang dapat membantu membersihkan karat dan kotoran pada permukaan logam.
Warangan digunakan dalam perawatan keris untuk menghasilkan tampilan pamor yang lebih jelas sekaligus menjadi bagian dari teknik tradisional pengolahan permukaan bilah. Sementara itu, minyak cendana atau minyak kelapa digunakan dalam perawatan tertentu untuk membantu melindungi permukaan logam.
Namun, jamasan tidak dapat direduksi menjadi kegiatan pembersihan benda antik semata. Di dalamnya terdapat tata cara, doa, dan penghormatan terhadap pusaka sebagai bagian dari identitas budaya keraton.
Prosesi tersebut melibatkan para abdi dalem dengan pembagian tugas dan aturan yang telah ditetapkan. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama Sugengan Ageng di Bangsal Prabayaksa, dilanjutkan pemberitahuan resmi dari Sri Sultan dan pengambilan pusaka menggunakan kunci khusus yang disebut kempu.
Setelah dibersihkan, pusaka diberi kain penutup atau singeb berupa mori putih baru. Selanjutnya, pusaka dihias dengan kain cindhe serta rangkaian bunga kanthil dan melati sebelum dikembalikan ke tempat penyimpanan.
Setiap tahapan memperlihatkan pentingnya keteraturan, tata krama, dan hierarki dalam kehidupan keraton.
Warisan yang Menyimpan Pengetahuan Lintas Generasi
Kereta kencana di Museum Wahanarata, pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro, hingga tradisi jamasan menunjukkan bahwa warisan Keraton Yogyakarta menyimpan lebih dari sekadar cerita masa lalu.
Di balik bentuk kereta terdapat pengetahuan tentang konstruksi dan teknologi transportasi. Pada bilah keris tersimpan keterampilan metalurgi serta filosofi budaya. Sementara itu, tradisi jamasan memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan antara perawatan benda, penghormatan terhadap leluhur, dan kehidupan spiritual.
Peninggalan tersebut juga menjadi bukti bahwa teknologi, struktur sosial, dan kebudayaan tidak berkembang secara terpisah. Ketiganya saling membentuk dan memengaruhi perjalanan masyarakat Jawa.
Melalui artefak dan tradisi yang terus dirawat, sejarah keraton tidak hanya menjadi catatan tentang siapa yang pernah berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah peradaban membangun pengetahuan, mengatur kehidupan, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.
Sebab, terkadang sejarah tidak hanya bisa dibaca melalui tulisan. Ia juga dapat ditemukan pada roda kereta yang pernah melintasi halaman istana, bilah keris yang menyimpan perjalanan seorang tokoh, hingga air yang disiramkan dalam ritual jamasan setiap bulan Suro.