
KABARAJAWA – Aksi klitih kembali mencabik rasa aman warga Daerah Istimewa Yogyakarta pada semester pertama tahun 2025. Jogja Police Watch (JPW) mencatat serangkaian peristiwa kejahatan jalanan tersebut terjadi di berbagai kabupaten dan kota dalam wilayah hukum Polda DIY.
Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba, menegaskan bahwa klitih menjadi fenomena kelam yang tak kunjung padam meskipun pemerintah daerah sempat menerapkan sejumlah kebijakan strategis, termasuk pemberlakuan jam malam bagi remaja. Namun, kebijakan tersebut gagal meredam maraknya klitih.
“JPW mencatat aksi klitih terus terjadi meski sudah ada kebijakan jam malam. Kita perlu langkah lebih menyeluruh untuk menyelesaikan akar masalahnya,” tegas Baharuddin.
Ia memaparkan, pada Januari 2025, klitih terjadi di Jalan Kalurahan Tayuban, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Di Bantul, aksi klitih menebar teror di Dusun Ngijo, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon.
Di Kota Yogyakarta, para pelaku klitih beraksi di depan Gedung Asrama Kujang, Jalan Pengok Kidul, Kalurahan Baciro, Kemantren Gondokusuman.
Klitih juga mengoyak ketenangan warga Sleman. Di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, dua orang menjadi korban sabetan gesper hingga mengalami luka-luka.
Memasuki Februari 2025, JPW mencatat aksi klitih terjadi di Dusun Kradenan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman. Peristiwa ini menambah daftar panjang tragedi klitih yang menodai citra Kota Pelajar.
Pada Maret 2025, aksi klitih semakin brutal. Para pelaku melancarkan serangan di Jalan Siliwangi, Selokan Mataram, Trihanggo, Gamping, Sleman. Di Bantul, klitih terjadi di area SPBU Parangtritis, Kretek, menimbulkan kepanikan warga sekitar.
Di Sleman, klitih kembali menebar teror di Jalan Kepitu, Turi. Korban diserang sejumlah orang bersenjata tajam. Namun kemudian diketahui korban ternyata melukai dirinya sendiri akibat masalah keluarga.
Tak berhenti di situ, Mei 2025 mencatat aksi klitih berdarah di Padukuhan Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Seorang laki-laki menjadi korban sabetan gesper hingga mengalami luka serius.
Pada Juni 2025, polisi menangkap tiga pelaku klitih di sekitar Terminal Condongcatur, Depok, Sleman. Penangkapan ini sempat membuat masyarakat sedikit lega, meskipun rasa cemas tetap menghantui karena aksi klitih seakan tak ada habisnya.
Memasuki pertengahan Juli 2025, klitih kembali merobek ketenangan warga Bantul. Seorang remaja asal Srimulyo, Piyungan, Bantul, mengalami luka serius di tangan akibat sabetan senjata tajam di Jalan Piyungan-Prambanan, Wanujoyo, Srimartani, Piyungan.
Baharuddin menegaskan, klitih saat ini menjadi momok menakutkan yang mengintai siapa saja, terutama warga yang beraktivitas pada malam hari. Ia meminta pihak kepolisian terus meningkatkan patroli rutin, khususnya pada jam-jam ganjil dan di titik rawan.
“Kami meminta polisi menangkap seluruh pelaku klitih yang masih kabur agar tidak menambah keresahan masyarakat,” pintanya.
JPW juga menyerukan peran aktif orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka. Baharuddin mengingatkan, remaja yang keluar malam tanpa keperluan mendesak berpotensi menjadi korban atau justru pelaku klitih.
“Klitih tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga merenggut ketenangan batin warga Yogyakarta. Semua pihak harus bersatu melawannya sebelum klitih melumpuhkan masa depan generasi muda kita,” pungkas Baharuddin.