
KabarJawa.com– Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat komitmen menjadikan Yogyakarta sebagai kota ramah lansia. Setelah sukses menjalankan program Layanan Lansia Terintegrasi (LLT) di enam kelurahan, kini Pemkot bersiap menambah titik layanan baru pada 2026.
Langkah ini berdasarkan jumlah penduduk lanjut usia di Kota Yogyakarta telah mencapai lebih dari 60 ribu orang, atau sekitar 16 persen dari total populasi kota.
Penambahan Layanan Lansia Terintegrasi
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Yogyakarta, Indrawati, mengungkapkan bahwa Pemkot telah menyiapkan roadmap pengembangan LLT di wilayah-wilayah yang potensial.
Pemetaan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2KB), serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sebagai pengampu utama.
“Rencana di 2026 kami akan menambah LLT di tiga wilayah baru. Saat ini kami sedang memetakan lokasi yang paling potensial untuk dikembangkan,” ujar Indrawati, Selasa (4/11/2025).
Indrawati menegaskan bahwa pengembangan LLT tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia menilai, kekuatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pembentukan LLT karena program ini bersifat community-based.
“Pembentukan LLT memerlukan dukungan nyata dari masyarakat. Kami melihat potensi jumlah lansia, kekuatan komisi lansia, serta ketersediaan relawan yang siap menjadi penggerak,” jelasnya.
Ia menambahkan, para pengelola LLT akan mendapatkan pelatihan dari Bappeda agar mampu mengelola layanan secara profesional.
Menurut Indrawati, LLT berperan sebagai jembatan penghubung antara kebutuhan lansia dan penyedia layanan sosial.
Melalui LLT, pemerintah berupaya memastikan agar para lansia, terutama yang berada di level tiga atau bedrest, tetap mendapatkan perhatian dan tidak menjadi lansia terlantar.
“Fokus kami pada lansia bedrest. Mereka membutuhkan perhatian khusus agar tetap terlayani dan tidak merasa ditinggalkan,” tegasnya.
Dari Pilot Project hingga Replikasi di Enam Kelurahan
Program LLT pertama kali lahir di Kelurahan Wirogunan sebagai pilot project pada 2022. Melihat dampak positifnya, Pemkot kemudian memperluas program ini ke lima kelurahan lainnya: Purbayan, Gedongkiwo, Semaki, Baciro, dan Kotabaru.
Setiap LLT memiliki pola dan karakteristik berbeda, menyesuaikan potensi wilayah masing-masing. Misalnya, di Kotabaru, dukungan dari berbagai CSR (Corporate Social Responsibility) membuat akses bantuan bagi lansia lebih mudah dan cepat.
“Keberadaan LLT sangat efektif karena penggeraknya berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat sendiri yang tahu kondisi lansia di lingkungannya, sehingga penanganannya lebih tepat,” tutur Indrawati.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah lansia di Kota Yogyakarta mencapai 60.070 jiwa. Dari jumlah tersebut, 1.139 orang termasuk kategori lansia bedrest yang memerlukan pendampingan intensif.
Indrawati menilai, angka tersebut merupakan sinyal kuat bahwa perhatian terhadap kelompok lansia harus semakin kuat.
“Bila diberdayakan dengan baik, lansia bisa menjadi potensi sosial yang luar biasa,” ujarnya.
Program LLT juga bersinergi dengan berbagai kebijakan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, seperti layanan pemeriksaan kesehatan gratis untuk lansia dan program satu kampung satu bidan.
“LLT berperan aktif dalam memantau kondisi kesehatan lansia. Misalnya, ketika ada lansia yang membutuhkan alat bantu kursi roda, LLT langsung membantu mengakses layanan ke Dinsosnakertrans. Kami juga menjalankan kegiatan sapa lansia dengan melibatkan mahasiswa untuk mengunjungi dan berinteraksi dengan para lansia,” jelas Indrawati.
Sinergi antarprogram ini terbukti meningkatkan frekuensi pemeriksaan kesehatan lansia serta mempercepat respon terhadap kebutuhan mereka.
“Lansia bisa lebih sering mendapatkan pemeriksaan, dan kami bisa mendeteksi kondisi mereka lebih cepat,” tambahnya.
Melalui penambahan titik layanan lansia terintegrasi pada 2026, Pemkot Yogyakarta ingin memastikan bahwa tidak ada lansia yang terpinggirkan.
Program ini tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pada rehabilitasi sosial di luar panti, agar para lansia tetap hidup bermartabat di tengah komunitasnya.
“LLT adalah simbol kepedulian Yogyakarta terhadap warganya yang menua. Kami ingin para lansia tetap aktif, bahagia, dan merasa dihargai,” pungkas Indrawati. (ef linangkung)